Berjutapena.or.id – Ada masa ketika membaca adalah aktivitas yang tidak perlu dibanggakan. Ia terjadi dengan sendirinya. Mata menangkap huruf di papan reklame, banner warung, spanduk kampanye, bahkan tulisan kusam yang tak sengaja terlewat di pinggir jalan. Otak bekerja tanpa instruksi. Literasi tumbuh tanpa seminar, tanpa motivator, tanpa konten “cara berpikir kritis dalam 60 detik”.
Hari ini, membaca harus dipaksa. Dan itu sudah tanda pertama kehancuran.
Saat kami masuk ke dunia wartawan, memperjelas satu hal yang kini makin sulit diterima banyak orang: salah membaca adalah awal dari kejahatan berpikir. Salah konteks menghasilkan salah kesimpulan. Salah kesimpulan melahirkan opini palsu yang disebarkan dengan penuh percaya diri. Di situ aku belajar bahwa literasi bukan soal rajin membaca, tapi kemampuan menahan diri sebelum menyimpulkan.
Masalahnya, menahan diri adalah hal paling dibenci zaman ini.
Kita hidup di era di mana durasi menentukan kebenaran. Jika terlalu panjang, ia dicurigai. Jika terlalu kompleks, ia ditinggalkan. “Standar TikTok” telah menjadi kurikulum tak tertulis: berpikir harus cepat, dangkal, emosional, dan selesai sebelum perhatian hilang. Orang tidak lagi membaca gagasan, mereka mengoleksi potongan. Quotes diambil seperti jimat, dilepas dari konteksnya, lalu dipamerkan seolah hasil perenungan panjang.
Yang menyedihkan: mereka benar-benar percaya itu literasi.
Di lapangan, ini terlihat telanjang. Banyak yang fasih bicara tentang isu besar, tapi tak sanggup menjelaskan satu argumen secara runtut. Mereka marah, tapi tak tahu kenapa. Mereka memilih posisi, tapi tak pernah membaca dasar pertimbangannya. Diskusi berubah jadi adu suara. Siapa paling keras, dialah yang dianggap paling paham. Mendengar dianggap kalah. Diam dianggap bodoh.
Padahal pendengar yang buruk selalu melahirkan pembicara yang berisik.
HOS Tjokroaminoto sudah lama memperingatkan penyakit ini, meski zamannya belum mengenal algoritma. “Jika kalian ingin menjadi pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan berbicaralah seperti orator.”¹ Kalimat ini hari ini sering dipajang, jarang dipahami. Orang hanya mencuri bagian “berbicara seperti orator”, lalu membuang syaratnya. Mereka ingin panggung tanpa proses. Ingin pengaruh tanpa tanggung jawab.
Hasilnya adalah generasi yang bisa bicara apa saja, tapi tidak bertanggung jawab atas apa pun.
Goenawan Mohamad menyebut kemampuan membaca sebagai rahmat.² Tapi rahmat itu tidak lagi diinginkan. Membaca menuntut kesabaran, dan kesabaran dianggap kemunduran. Lebih efisien menghafal slogan daripada memahami argumen. Lebih praktis mengutip daripada berpikir. Maka lahirlah manusia-manusia yang merasa pintar hanya karena tahu siapa yang harus dikutip, bukan karena paham apa yang dikutipnya.
Mochtar Lubis pernah menulis tentang manusia Indonesia yang gemar hidup dalam kepura-puraan.³ Hari ini, kepura-puraan itu naik kelas: berpura-pura literat. Berpura-pura kritis. Berpura-pura sadar, padahal hanya mengulang.
Ironinya hampir lucu. Akses buku melimpah. Perpustakaan digital ada di genggaman. Tapi orang lebih hafal dialog video viral daripada isi satu bab buku. Mata aktif, otak pasif. Jari rajin menggulir, pikiran malas bekerja. Ini bukan kemalasan biasa—ini kemalasan yang dibenarkan oleh budaya.
Pramoedya Ananta Toer pernah mengingatkan bahwa membaca dan menulis adalah kerja pembebasan.⁴ Tapi pembebasan menuntut usaha, dan usaha tidak laku di pasar perhatian. Maka yang dipilih adalah ilusi kebebasan: bebas beropini tanpa beban berpikir.
Kita tidak sedang kekurangan orang yang bicara. Kita kelebihan orang yang tidak mau mendengar. Kita tidak krisis informasi. Kita krisis daya cerna. Literasi tidak mati karena dilarang. Ia mati karena dianggap tidak penting—digantikan oleh potongan, slogan, dan keberanian palsu untuk bersuara tanpa dasar.
Dan selama budaya ini dipelihara, jangan berharap lahir pemimpin berpikir. Yang lahir hanya orator tanpa isi, intelektual instan, dan massa yang merasa tercerahkan padahal sedang digiring oleh kebisingan mereka sendiri.
Literasi tidak runtuh dengan ledakan.
Ia mati pelan-pelan—
dan kita menontonnya sambil berkata: “yang penting relate.”
- HOS Tjokroaminoto, kutipan tentang kepemimpinan dan pendidikan kader Sarekat Islam.
- Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir, Tempo.
- Mochtar Lubis, Manusia Indonesia, Yayasan Obor Indonesia.
- Pramoedya Ananta Toer, Lentera Dipantara, Hasta Mitra.










Leave a Reply