Dari Pelajar ke Prajurit: Kisah Moch. Haikal Nur Hijazi Menembus TNI AD

Kiri: Moch. Haikal Nur Hijazi saat aktif sebagai kader PC IPNU Situbondo. Kanan: Moch. Haikal Nur Hijazi setelah resmi menjadi prajurit TNI AD di korps kesehatan militer.

Berjutapena.or.id – Semangat pengabdian kepada bangsa kembali ditunjukkan oleh generasi muda Nahdlatul Ulama. Moch. Haikal Nur Hijazi, alumni PC IPNU Situbondo, berhasil menembus seleksi TNI Angkatan Darat dan kini mengemban tugas sebagai prajurit di korps kesehatan militer. (Sabtu, 04/04/2026)

Bagi Haikal, keputusan bergabung dengan TNI bukan sekadar pilihan profesi, melainkan bentuk nyata menyalurkan cinta tanah air. Latar belakangnya sebagai santri, ditambah berasal dari keluarga besar Pondok Pesantren Nurul Jadid Mlandingan Situbondo (Tembreng), menjadi bekal kuat dalam menghadapi kehidupan militer yang menuntut kedisiplinan tinggi.

“Di pesantren, semua sudah terlatih—fisik, sosial, dan psikologis. Itu sangat relevan dengan kehidupan di TNI,” ungkapnya.

Selain itu, Haikal melihat TNI sebagai institusi yang memberi kesempatan luas tanpa memandang latar belakang sosial. Hal ini semakin memotivasinya untuk terus berkembang dan meraih kesuksesan melalui jalur yang bersih dan profesional.

Proses seleksi yang dilalui Haikal tidaklah mudah. Ia menegaskan bahwa kunci utama adalah usaha yang konsisten, doa, serta dukungan dari keluarga dan lingkungan terdekat.

“Seleksi itu ada tahap administrasi, kesehatan, jasmani, akademik, dan psikologi. Semua harus dipersiapkan dengan matang,” jelasnya.

Di balik keberhasilannya, Haikal mengakui peran penting IPNU dalam membentuk karakter dan pola pikirnya. Motto “berjuang, belajar, dan bertakwa” bukan sekadar slogan, tetapi menjadi prinsip hidup yang ia pegang.

Menurutnya, IPNU menjadi ruang pengkaderan yang efektif bagi generasi muda Nahdliyin. Melalui berbagai kegiatan, kader dilatih dalam kepemimpinan, kedisiplinan, penguatan mental, hingga pengembangan potensi diri. Hal ini secara tidak langsung menjadi bekal penting ketika menghadapi seleksi TNI yang menuntut kesiapan menyeluruh.

“Di IPNU, banyak wadah untuk mengasah kemampuan dan membentuk mental. Itu sangat membantu ketika ada peluang seperti rekrutmen TNI,” tambahnya.

Keberhasilan Haikal sempat mengejutkan keluarga dan teman-temannya. Ia mengaku awalnya tidak menyangka bisa lolos hingga tahap akhir. Bahkan, pengalaman tersebut sekaligus membuktikan bahwa masuk TNI AD benar-benar tidak dipungut biaya.

“Yang lebih mengejutkan lagi, kami ditempatkan di korps kesehatan militer. Tidak semua orang bisa masuk ke kecabangan ini,” ujarnya.

Sebagai penutup, Haikal berpesan kepada generasi muda yang memiliki cita-cita serupa agar tetap menjaga integritas dan tidak tergoda jalan pintas.

“Masuk TNI harus dengan usaha sendiri. Jangan melalui jalan belakang. Siapkan diri, jaga kejujuran, dan minta doa restu orang tua. Menjadi prajurit itu bukan sekadar pekerjaan, tapi bentuk pengabdian,” tegasnya.

Kisah Haikal menjadi bukti bahwa kombinasi antara pendidikan pesantren, latar belakang keluarga yang kuat dalam tradisi keilmuan, pengkaderan organisasi, serta tekad yang kuat mampu mengantarkan seseorang meraih cita-cita besar, sekaligus mengabdi untuk bangsa dan negara. (Lil)