Pahlawan dari Situbondo untuk Indonesia

KH As'ad Syamsul Arifin bersama pasukan yang terdiri dari banyak elemen.
KH As'ad Syamsul Arifin bersama pasukan yang terdiri dari banyak elemen.

Berjutapena.or.id,- Ingatan saya masih merekam kuat tentang penganugerahan gelar pahlawan nasional oleh presiden Jokowi kepada K.H.R. As’ad Syamsul Arifin. Penganugerahan itu tercatat secara resmi dalam Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 90/TK/Tahun 2016. Tentu, bagi pemerintah tidak mudah untuk menentukan sosok sebagai ‘Pahlawan Nasional’. Dan saya yakin pemerintah telah membaca tuntas sejarah perjalanan hidup K.H.R. As’ad Syamsul Arifin.

Saat ini merupakan momentum mengenang jasa-jasa para pahlawan negara kita. Banyak perayaan yang dilaksanakan di setiap daerah, tidak ada maksud lain kecuali mengenang dan mengingat para pahlawan Indonesia. Seorang pahlawan bukan hanya mereka yang berperang melawan penjajah, melainkan juga perihal keagamaan, dengan kata lain berdoa agar bangsa Indonesia selamat dari penjajah. K.H.R. As’ad Syamsul Arifin adalah sosok pahlawan nasional yang tidak hanya berkutik dalam bidang keagamaan, melainkan juga dalam bidang berperang fisik melawan para penjajah. Tulisan ini akan membahas biografi K.H.R. As’ad Syamsul Arifin secara singkat dan jasa-jasa beliau kepada negara.

Mengenal sosok K.H.R. As’ad Syamsul Arifin

Sosok yang akrab dipanggil Kiai As’ad, lahir pada tahun 1897 M / 1315 H, di perkampungan dekat masjid Al-Haram Makkah bernama Syiib Ali. Ketika Kiai As’ad berusia 6 tahun, beliau diboyong oleh ayahnya (K.H.R. Syamsul Arifin) ke tanah air yakni Kembang Kuning Madura bersama ibunya pula. Menurut keterangan, Kiai As’ad dikenal sebagai pemuda yang kritis dan pemberani.

Pada usia 13 tahun, beliau mondok di Pondok Pesantren Banyuanyar yang diasuh oleh Kiai Abdul Majid dan Kiai Haji Abdul Hamid. Menginjak usia 16 tahun Kiai As’ad dikirim ke Makkah untuk mencari ilmu. Di tanah suci Makkah beliau memiliki banyak guru dan beberapa teman seangkatan yang juga dari Indonesia. Guru-guru beliau diantaranya: Sayyid Abbas Al-Maliki, Syekh Muhammad Amin Al-Quthby, Syekh Hasan Al-Yamani, Syekh Hassan Al-Massad, Syekh Bakir, Syekh Syarif Al-Syinqity. Sedangkan salah satu teman seangkatan beliau adalah K.H. Zaini Mun’im, Tanjung Paiton Probolinggo.

Setelah bertahun-tahun beliau mondok di Makkah—Pada tahun 1924 M,saat itu usia Kiai As’ad 25 tahun—beliau melanjutkan pendidikannya di beberapa pesantren. Diantaranya yakni: Pondok Sidogiri asuhan K.H. Nawawi, Pondok Buduran asuhan K.H. Khozin, Pondok Bangkalan asuhan K.H. Kholil, dan Pondok Tebuireng asuhan K.H. Hasyim Asy’ari.

Sejak masa muda hingga jadi pengasuh pesantren, Kiai As’ad sudah mempunyai kelebihan yang membuat orang lain heran dan takjub. Banyak sekali cerita-cerita tentang keistimewaan pribadi beliau. Salah satunya adalah—ini yang paling melekat di kalangan masyarakat sampai saat ini—perihal hujan yang bertepatan dengan momentum Muktamar NU ke-27 di Situbondo, Desember 1984 M.

Saat itu ada petugas khusus yang menyiram lapangan Sodung (sekutar 2 km dari pondok Sukorejo) untuk menyambut Presiden Soeharto. Melihat petugas itu Kiai As’ad mendatangi mereka dan bertanya; “Pakai uang siapa menyiram lapangan seluas ini? Kalau pemerintah banyak uang, lebih baik dipergunakan untuk memperbaiki jalan di sebelah utara sana. Percuma saja menyirami lapangan ini, sebentar lagi toh hujan akan turun. Lagi pula, Pak Harto tidak mendarat di sini.” Ucap beliau. Mendengar perkataan beliau, Komandan lapangan menjawab pendek saja; “Kami hanya melaksanakan tugas dari atasan.” Dan Kiai As’ad kembali ke pondok.

Benar saja, tidak lama Kiai As’ad meninggalkan tempat, hujan deras kemudian turun membasahi lapangan. Anehnya lagi hujan ini tidak ke daerah lain, hanya di lapangan Sodung. Dan juga ternyata Pak Harto tidak mendarat di lapangan Sodung, melainkan di lapangan Karang Tekok. Setelah kejadian tadi Komandan beserta anggotanya bercerita kepada masyarakat sekitar dengan rasa heran dan takjub.

Jasa-jasa K.H.R. As’ad Syamsul Arifin

Banyak sekali jasa-jasa beliau yang mungkin kita tidak ketahui. Dimomen Agustus ini sangatlah relevan untuk mengingat dan mengetahui jasa apa saja yang Kiai As’ad tinggalkan, kendatipun telah melewati tanggal 17. Tidak ada maksud lain kecuali agar kita semakin termotivasi dan mempunyai guru yang harus kita banggakan. Setidaknya dua jasa beliau yang harus kita tahu dan kita kenang:

Pertama, berkaitan dengan agama. Kiai As’ad merupakan ‘mediator’ berdirinya Nahdlatul Ulama. Beliaulah yang diperintah oleh gurunya (Syaikhona Kholil Bangkalan) untuk menyerahkan tongkat beserta tasbih kepada K.H. Hasyim Asy’ari di Jombang. Selain itu, Kiai As’ad juga sebagai sosok guru yang mengajarkan ilmu-ilmu agama yang telah diperoleh pada saat mondok di berbagai pesantren, termasuk pada saat beliau mondok di Makkah.

Kedua, berkaitan dengan negara. Waktu itu, Indonesia sedang mengalami hiruk-pikuk tentang Pancasila. Pada akhirnya, Pancasila ditetapkan bukan sebagai agama dan agama bukan Pancasila. Penetapan itu diterima pertama kali oleh Ormas NU di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo, yang merupakan pondok Kiai As’ad. Sudah barang tentu, penempatan tersebut tidak sembarangan, ada peran Kiai As’ad sehingga ditempatkan di PonPes Salafiyah Syafi’iyah. Selain itu, Kiai As’ad juga terlibat, bahkan sebagai aktor dalam melawan penjajah. Saat itu, Kiai As’ad tercatat sebagai Komandan Laskar Sabilillah Panarukan pada tahun 1947-1949. Kemudian ketika 10 November pecah peperangan di Surabaya, beliau ikut serta ke Surabaya untuk melawan penjajah. Pasalnya, waktu itu beliau bermarkas di rumah Kiai Yasin, Blauran IV/25.

Momen Agustus ini harus kita isi dengan hal-hal positif. Seperti, pembacaan doa kepada para pahlawan dan mengadakan lomba diberbagai daerah. Yang juga tidak kalah penting adalah mengetahui dan mengenal siapa pahlawan kita, serta apa jasanya kepada negara, lebih-lebih kepada agama. Dengan begitu bisa menjadi harapan dan semangat untuk kedepannya yang terus mengalami kemajuan, khususnya negara kita Indonesia.

 

Editor : Rekanita Lilik