Berjutapena.or.id — Menjadi duta kerap dipersepsikan sebatas simbol dan tampilan. Namun, anggapan itu ditepis oleh Rekanita Sintia Hafsah Cahyaningrat, Duta PC IPPNU Situbondo, yang menegaskan bahwa peran duta justru terletak pada fleksibilitas dan dampak nyata di tengah pelajar dan masyarakat.
Menurut Rekanita Sintia, posisi duta tidak berada dalam struktur formal organisasi, sehingga memberi ruang gerak yang lebih luas untuk merespons persoalan di lapangan secara cepat dan kontekstual.
“Duta itu seperti membuka sarana. Karena sifatnya fleksibel, kita bisa langsung mengaplikasikan program kerja sesuai problematika yang ada, bahkan tanpa harus menunggu forum formal seperti raker,” ujarnya.
Gadis asal Desa Mojosari itu menilai, kehadiran duta seharusnya menjadi jembatan antara organisasi dan realitas pelajar. Bukan sekadar wajah atau ikon, melainkan penggerak yang mampu menerjemahkan persoalan menjadi aksi nyata.
Nilai Dampak dan Kebermanfaatan
Bagi Duta IPPNU Situbondo ini, nilai paling penting yang harus dibawa seorang duta ke lingkungan IPPNU adalah dampak.
“Buat apa mengejar selempang atau nama kalau tidak memberi dampak?” tegasnya.
Nilai kebermanfaatan, lanjutnya, bukan hanya untuk personal duta, tetapi juga untuk organisasi, pelajar, hingga masyarakat luas. Apalagi, Duta PC IPPNU Situbondo tidak hanya terdiri dari satu orang, melainkan sembilan duta lain yang bekerja secara kolektif.
“Dampaknya bisa ke duta itu sendiri, ke PC IPPNU Situbondo, ke pelajar, bahkan ke masyarakat. Untuk pelajar, alhamdulillah sudah mulai menyentuh. Untuk masyarakat, masih terus diupayakan,” jelasnya.
Stigma dan Tuntutan Kesempurnaan
Di balik kerja-kerja tersebut, Rekanita Sintia mengakui bahwa tantangan terbesar yang dihadapi duta adalah stigma. Mulai dari anggapan bahwa duta harus selalu sempurna, hingga pandangan pesimis yang menilai duta hanya sebagai pajangan organisasi.
“Kadang duta dituntut harus sempurna. Kalau tidak terlihat bergerak sedikit saja, seolah-olah tidak berguna,” katanya.
Stigma ini kerap berdampak pada pelaksanaan program kerja, karena masih ada keraguan terhadap fungsi dan kebermanfaatan duta IPPNU.
Selain itu, tantangan lain terletak pada relasi. Berbeda dengan duta-duta lain yang jejaringnya sudah mapan, Duta IPPNU masih berada dalam tahap membangun.
“Relasi kita belum sekuat itu, jadi memang perlu proses,” tambahnya.
Youth Care Education dan Ruang Aman Pelajar
Dari berbagai program yang telah dijalankan, Rekanita Sintia menyebut Youth Care Education sebagai yang paling berkesan. Program ini telah dilaksanakan di sejumlah sekolah dan pondok pesantren, dengan fokus isu antibullying dan kesehatan mental.
Salah satu pelaksanaan yang paling membekas adalah kegiatan di Pondok Pesantren Al Iflah dan SMA Al Azhar.
“Di situ saya belajar bahwa masih banyak pelajar dan santri yang struggle dengan kondisi mental dan kehidupannya. Bahkan ada yang baru pertama kali berani mencurahkan isi hatinya,” ungkapnya.
Program tersebut tidak hanya memberi edukasi, tetapi juga membuka ruang aman bagi pelajar untuk berbicara. Dari sinilah lahir jargon Let’s Care, Let’s Speak Up, sebagai ajakan agar pelajar lebih peduli dan berani menyuarakan kondisi mentalnya.
Harapan Keberlanjutan Gerakan Duta
Ke depan, Rekanita Sintia berharap perjuangan duta tidak berhenti pada satu periode kepengurusan. Ia menekankan pentingnya keberlanjutan gerakan serta perluasan bidang garapan.
“Tidak hanya pendidikan dan gender, tetapi juga lingkungan, seni budaya, dan keagamaan,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa seluruh kerja duta harus tetap berpijak pada nilai Ahlussunnah wal Jamaah.
“Dengan begitu, duta tidak hanya menyentuh pelajar, tetapi juga masyarakat secara luas,” pungkasnya.











Leave a Reply