Gunung sebagai Madrasah Sunyi

berjutapena.or.id, – Ada ruang-ruang belajar yang tak pernah menyediakan papan tulis, tak pula memberi nilai angka. Gunung adalah salah satunya. Di sanalah kami—CBP-KPP Situbondo, Jember, dan Malang—memilih berhenti sejenak dari hiruk-pikuk rutinitas, lalu berjalan perlahan menapaki sunyi Gunung Kawi / Kawinajang.

Pendakian ini bermula dari obrolan sederhana sepulang pelatihan. Ajakan mendaki bukan soal menaklukkan ketinggian, melainkan menghidupkan kembali salah satu pilar CBP: cinta alam dan tadabbur alam. Di gunung, kami diajak jujur pada diri sendiri—tentang betapa seringnya kita abai pada lingkungan, kurang peka pada sesama, dan terlalu tergesa ingin sampai tanpa mau menjalani proses.

Gunung tidak pernah instan. Untuk sampai ke puncak, ada jatuh, luka, kedinginan, pusing, dan lelah yang harus diterima dengan lapang. Dari situ kami belajar: keberhasilan bukan hadiah, melainkan hasil dari kesabaran dan pengorbanan. Setiap langkah adalah refleksi; setiap tarikan napas adalah pengakuan atas keterbatasan diri. Gunung mengajarkan kerendahan hati—bahwa manusia kecil di hadapan alam, dan justru di situlah ia menemukan makna.

Lebih dari itu, pendakian ini menjadi ruang refresh sekaligus penguat jiwa korsa. Di jalur yang sama, kami saling menjaga ritme, saling menunggu, saling menguatkan. Kebersamaan CBP Situbondo, Jember, dan Malang tidak dibangun oleh slogan, tetapi oleh langkah-langkah yang disepakati bersama. Ketika satu lelah, yang lain menguatkan; ketika satu ragu, yang lain memastikan tidak ada yang tertinggal.

Saat tulisan ini disusun, tiga kader—Mohammad Tyan Baharsyah (DKC Situbondo), Ahmad Nur Chaulis Majid (DKC Malang), dan M. Nailur Rohman (DKC Jember)—masih berada di jalur pendakian. Kami belum sampai puncak. Dan mungkin, memang tidak perlu terburu-buru. Sebab esensi perjalanan ini bukan pada titik tertinggi, melainkan pada proses menjadi manusia yang lebih peka, lebih rendah hati, dan lebih setia pada kebersamaan.

Gunung mengingatkan kami: untuk naik, kita harus siap merunduk. Untuk sampai, kita harus mau belajar berjalan.

Penulis : Mohammad Tyan Baharsyah (DKC CBP Situbondo)

Muhammad Robet Asraria Soma
Santri Tulen