Pengabdian ini Tak Mengenal Hatam

Dari balik mata jendela itu, tampaknya waktu masih menyimpan ingatannya dengan baik.

Benar,
Aku masih mengingat, sejarah panjang tentang kisah para ulama kita, memperjuangkan negeri yang tengah merintih sedu, meminta diselamatkan.

Aku masih mengingat, perihal ulama kita yang memperjuangkan nyanyian ketuhanan agar saat ini kita tetap dapat menikmatinya secara damai nan merdu ditelinga.

Dan sekarang giliiran kita, rekan dan rekanitaku. Untuk mengibarkan panji panji hijau, tetap mau tuk menatap tegap, kenakan batik hijau, lengkap dengan kopiah dan jilbab putih manismu itu.

Dan sekarang giliran kita rekan dan rekanitaku, untuk tumbuh menguat menjadi pelajar yang berwawasan rimbun menebas bangkai-bangkai kebodohan itu.

Menjadi insan yang tetap berada di barisan aswaja, diantara hiruk pikuk negeri yang semakin kesini makin habis dikoyak kapitalisasi.

Menjadi pelajar yang sibuk mengeja ayat-ayat tuhan yang merdu, dan meyeduhnya dengan ibadah secangkir kopi pengabdian itu. Sembari bergumam, semoga kebaikan mengumpulkan kepingan berkahnya secara utuh.

Sekali lagi, rekan dan rekanitaku. Meski air mata perjuangan suka mengering dan menyisakan bekas diatas lapisan kulit eksotismu. Sungguhlah, pengabdian ini tak boleh kenal hatam !

Penulis : Winda sari (PAC IPNU IPPNU Asembagus)