Be Bold, Be IPPNU: Cantik, Cerdas, dan Berdaya Tanpa Batas

berjutapena.or.id,- Perempuan pelajar hari ini hidup di tengah perubahan sosial yang begitu cepat. Arus informasi yang datang tanpa batas, standar kecantikan yang seringkali tidak realistis, hingga tekanan sosial di lingkungan pergaulan kerap memengaruhi cara perempuan memandang dirinya sendiri. Tidak sedikit pelajar perempuan yang sebenarnya memiliki potensi besar, namun masih ragu untuk tampil dan menunjukkan kemampuannya.

Di tengah situasi tersebut, ruang-ruang diskusi yang memberikan inspirasi dan refleksi menjadi semakin penting. Melalui dialog yang terbuka, pelajar dapat belajar memahami dirinya, memperluas cara pandang, sekaligus menemukan keberanian untuk berkembang. Semangat inilah yang dihadirkan dalam program Ruang Pena, sebuah forum diskusi yang mengajak pelajar untuk merawat nalar dan menumbuhkan gagasan.

Pada Selasa malam (10/03/2026), Ruang Pena mengangkat tema “Be Bold, Be IPPNU: Cantik, Cerdas, dan Berdaya Tanpa Batas.” Diskusi ini menghadirkan dua narasumber inspiratif, yakni Rekanita Aprilia Nur Azizah selaku Mandataris Ketua Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama Jawa Timur (PW IPPNU Jawa Timur) serta Rekanita Islah Maiya Nisa, Duta IPPNU Jawa Timur periode 2023–2025. Acara ini dipandu oleh Rekanita Cinta Dwi Rosalina sebagai moderator.

Keberanian Menjadi Diri Sendiri

Dalam pemaparannya, Rekanita Aprilia Nur Azizah menjelaskan bahwa slogan Be Bold, Be IPPNU bukan sekadar ungkapan motivasi. Lebih dari itu, ia merupakan ajakan bagi kader Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) untuk berani menjadi diri sendiri dan mengambil peran dalam kehidupan sosial.

Menurutnya, banyak perempuan sebenarnya memiliki potensi yang besar. Namun, potensi tersebut seringkali terhambat oleh rasa takut untuk mencoba atau kekhawatiran akan penilaian orang lain. Padahal, keberanian untuk melangkah justru menjadi titik awal bagi seseorang untuk berkembang.

Dalam konteks ini, organisasi memiliki peran penting. IPPNU bukan hanya sekadar tempat berhimpun bagi pelajar perempuan, tetapi juga ruang belajar untuk membangun karakter, kepemimpinan, serta kepercayaan diri. Melalui proses berorganisasi, pelajar dapat belajar menghadapi tantangan, bekerja sama, serta mengasah kemampuan yang tidak selalu diperoleh di ruang kelas.

Memaknai Cantik, Cerdas, dan Berdaya

Sementara itu, Rekanita Islah Maiya Nisa mengajak peserta diskusi untuk memaknai kembali konsep cantik, cerdas, dan berdaya. Ia menilai bahwa konsep tersebut seringkali dipahami secara sempit.

Cantik tidak semata-mata berkaitan dengan penampilan fisik. Lebih dari itu, kecantikan juga tercermin dari sikap, akhlak, dan cara seseorang memperlakukan orang lain. Demikian pula dengan kecerdasan, yang tidak hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari kemampuan berpikir kritis serta kepekaan sosial terhadap lingkungan sekitar.

Bagi Rekanita Islah, perempuan yang berdaya adalah mereka yang mampu memadukan ketiga hal tersebut secara seimbang. Kecantikan, kecerdasan, dan keberdayaan tidak berdiri sendiri, melainkan saling melengkapi dalam membentuk kepribadian seseorang.

Tantangan Pelajar Perempuan di Era Digital

Diskusi ini juga menyinggung tantangan yang dihadapi pelajar perempuan di era digital. Media sosial seringkali menghadirkan standar kesempurnaan yang membuat banyak orang merasa harus selalu tampil ideal. Tanpa disadari, hal ini dapat memengaruhi rasa percaya diri, terutama bagi pelajar yang masih dalam proses mencari jati diri.

Rekanita Aprilia mengingatkan bahwa media sosial seharusnya tidak menjadi ukuran nilai diri seseorang. Setiap individu memiliki proses dan perjalanan hidupnya masing-masing. Oleh karena itu, pelajar perempuan perlu belajar menghargai dirinya sendiri serta fokus pada pengembangan potensi yang dimiliki.

Menyeimbangkan Akademik dan Organisasi

Salah satu pertanyaan yang juga mengemuka dalam diskusi adalah tentang bagaimana menyeimbangkan antara aktivitas akademik dan organisasi. Hal ini menjadi dilema yang cukup sering dirasakan oleh pelajar yang aktif berorganisasi.

Menanggapi hal tersebut, Rekanita Aprilia menegaskan bahwa akademik tetap harus menjadi prioritas utama bagi pelajar. Namun, organisasi bukanlah penghambat prestasi. Sebaliknya, organisasi dapat menjadi ruang belajar yang memperkaya pengalaman serta melatih keterampilan sosial dan kepemimpinan.

Kuncinya terletak pada kemampuan mengelola waktu dan memahami skala prioritas. Dengan manajemen waktu yang baik, aktivitas akademik dan organisasi justru dapat berjalan beriringan dan saling mendukung.

Menjadi Perempuan yang Menguatkan Sesama

Di akhir diskusi, para narasumber juga menekankan pentingnya solidaritas di antara perempuan. Kompetisi yang tidak sehat, seperti saling menjatuhkan atau membandingkan diri secara berlebihan, justru dapat menghambat perkembangan bersama.

Sebaliknya, perempuan perlu saling mendukung dan menguatkan. Kesuksesan seseorang tidak mengurangi kesempatan orang lain untuk berhasil. Ketika perempuan saling memberikan ruang untuk tumbuh, mereka tidak hanya memperkuat diri sendiri, tetapi juga menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan produktif.

Melalui forum seperti Ruang Pena, pelajar diajak untuk terus menumbuhkan keberanian, memperluas wawasan, serta memperkuat kepercayaan diri. Sebab pada akhirnya, perempuan yang berdaya bukan hanya mereka yang mampu bersinar untuk dirinya sendiri, tetapi juga mereka yang mampu menghadirkan cahaya bagi lingkungan di sekitarnya.

Muhammad Robet Asraria Soma
Santri Tulen