Sastra Rumi dan Relevansinya di Masa Kini

Ilustrasi by AI
Ilustrasi by AI

berjutapena.or.id,- Masa kini adalah realitas yang sedang dialami. Diantara suatu kehidupan yang semakin pragmatis, menuntut kecepatan dan perilaku-perilaku praktis. Akankah mendalami sastra masih relevan dalam kehidupan sekarang? Sejenak sebagai manusia modern, mungkin kita akan berpikir, mengapa kita harus bersusah payah mendalami sastra, filsafat, tasawuf yang terlalu abstrak? Atau berlama-lama berpikir dan merenung ditengah-tengah hidup yang serba fast track? Barangkali itu terlalu membuang-buang waktu.

Sejauh ini, kita telah mengenal kecerdasan buatan, teknologi canggih yang tentu sangat mendukung efisiensi dan perilaku-perilaku praktis. Mendistorsi dari kalimat reflektifnya Martin Suryajaya, bukankah lebih baik kursus excell atau mendalami skill-skill praktis yang menunjang pekerjaan untuk kebutuhan materi sektoral, dari pada harus berlama-lama tenggelam dalam karya sastra Dee lestari, bumi manusianya Pram, dunia Shopie, atau membaca principia logicanya Martin?

Secara pragmatis, tentu saja iya, bahkan saya sendiripun saat ini sudah agak sulit berlama-lama tenggelam dalam bacaan tebal fiksi. Kalaupun membaca pasti teranggurkan beberapa bulan seperti novelnya Dee lestari itu, yang saya peroleh dari hasil barter dengan teman. (Ya gimana, sebagian besar waktunya sudah habis dibuat untuk memenuhi tuntutan hidup dan perilaku-perilaku teknis).

Namun, kembali pada pertanyaan reflektif. Akankah itu saja cukup? Sementara, kita adalah individu berkesadaran dengan segala kompleksitas makna.
Mungkin, kita memang perlu kembali belajar menyelam pada pedalaman batin. Bahkan, kita perlu dunia kedua ( berbeda) agar membuat diri tetap merasa hidup, sebagai penyeimbang kehidupan pragmatis. dengan begini, saya rasa kita telah ber- tawassuth, cermin pribadi yang imbang dan moderat dalam menyikapi segala hal.

Mendalami sastra Rumi, Ghazalian, dan nasihat-nasihat orang alim, seperti kumpulan nasihat kiai As’ad Syamsul Arifin, bahasa cintanya Kiai Azaim, mungkin itu dapat menjadi salah satu dunia kedua “alternatif’ yang terapeutik. Namun, mari kita fokus kepada bagaimana sajak-sajak Rumi menggiring kita kepada kalimat-kalimat reflektif yang membuat kita bersemangat dalam hidup, dalam mendampingi kehidupan yang serba chaostic.
Sebuah petikan puisi rumi yang cukup ciamik, “Takdir Ilahi”.
“Adakah pelukis yang melukis sebuah lukisan indah demi lukisan itu sendiri? Tidak, tujuannya ialah untuk menyenangkan anak-anak atau mengingatkan kembali teman-teman yang telah berpisah dan kenang-kenangan yang mencintainya. Ini seperti langkah catur anakku, hasil dari setiap langkah dirasakan pada langkah selanjutnya, (baca lengkapnya: nyanyian seruling puisi sufistik Jalaluddin Rumi)”

Tanpa bermaksud melucuti bait kalimat dari nuansanya, petikan puisi Rumi, mengajak kita untuk menyelami bahasa takdir, Rumi mengajarkan kita pada hukum sebab akibat. Ajakan untuk menjadi manusia  yang produktif, namun bukan sekadar produktif tanpa makna. Apapun yang kita kerjakan haruslah memiliki dampak kepada kemaslahatan, mengajak bahwa apa yang kita lakukan saat ini tergantung apa yang kita usahakan sebelumnya. Sebagaimana sajaknya “Usaha dan doa tergantung dari apa yang kita cita-citakan” sebuah kalimat magis namun relevan dalam kehidupan, dengan makna bahwa jalan takdir akan mengalir pada muaranya. dan Usaha yang disandarkan kepada Tuhan tentu tidak akan pernah mengecewakan. Rumi mengajak kita untuk tidak menjadi insan yang berpangku tangan pada nasib yang membuat diri tidak berkembang.

“Setiap orang melihat sesuatu berdasarkan kadar cahayanya, semakin sering ia menggosok cermin hatinya, semakin jelaslah Ia melihat segala. Kesucian ruhani terlimpah dari karunia Ilahi, keberhasilan dari menggosoknya juga merupakan anugerahnya”.

Bahkan dalam prosesnya Jalan cinta Rumi mengajak kita untuk tak lupa mengoreksi hati.  Berprasangka baik kepada Tuhan atas takdir yang ditetapkan. Rumi menekankan bagaimana dalam menjalani kehidupan ini seseorang perlu untuk memiliki pengetahuan serta hati yang baik, sebab kedua hal tersebut akan mempengaruhi seseorang dalam memandang dan berperilaku. Pikiran dan hati yang bersih akan mengarahkan kita kepada perilaku-perilaku yang sehat, yang membuat kita menjadi pribadi yang bersinar dalam menjalani takdir (baik yg diusahakan, pun yang ditetapkan). dan Tentu, hal yang semacam itu tidak diperoleh secara instan, perlu latihan untuk sampai pada keadaan hati yang bersih. Pun, ketika sampai pada titik tersebut. Kiranya sebagai manusia yang beragama, haruslah berkeyakinan bahwa apa yang kita usahakan tersebut bukan semata karena kita, namun terdapat campur tangan keluhuran karunia Tuhan.

“Ketika kesulitan itu datang, manusia yang bernasib sial akan berpaling dari Tuhan, sementara orang yang diberkahi akan mendekat kepada-Nya”.
Pada petikan terakhir ini, Rumi mengakhiri dengan pesan yang cukup membuat kita berefleksi bahwa bagaimanapun keadaan serta takdir yang kita terima, jangan pernah jauh dari ayat-ayat kauniyah Tuhan.

So, pada akhirnya mungkin kita dapat kembali berpikir bahwa upaya-upaya membaca sastra bukan sebuah ke sia-sia an. Bahkan, bila itu membutuhkan waktu lama untuk dicerna, ini perlu dilakukan dan diresapi sebagai nutrisi batin yang menyeimbangkan. Ya, melalui simbol bahasa-bahasanya yang seringkali secara implisit mengandung pesan kaya realitas, disamping sekaligus memahami intelektual penulisnya.

 

Penulis : Rekanita Winda Sari

Editor : Rekanita Lilik

Winda Sari
Senang belajar apapun, dan sebagai upaya menyambung sanad keilmuan.