Cinta atau…?

Oleh: M. Khairuz Zady Taqwa (Mahasiswa-santri Nurul Qarnain Jember asal Situbondo)

 

Cinta adalah anugerah terindah dari Yang Mahakuasa. Tak seorangpun yang sanggup untuk menaklukkan pesona cinta. Di antara juntaian tapak kakinya, kita terlipat penuh pasrah. Cinta telah menyihir guratan-guratan jiwa, hingga membuat lupa segala-galanya. Api cinta telah membakar jiwa, sehingga penderitanya menjadi mabuk tergila-gila. Orang menyebutnya “cinta tak ada logika,” maka tak mengherankan jika Laila terbius dengan secawan asmara Majnun yang sudah fana’. Begitu juga dengan Romeo yang terbuai dalam dekapan cinta Juliet. Dalam Al-Qur’an pun juga dituturkan bagaimana Siti Zulaikha harus menjalani penderitaan cinta. Ia begitu berhasrat untuk mendapatkan Yusuf, sampai menghambakan hidupnya demi cinta hingga ajal kematian menjemputnya. Sungguh luar biasa!

Cinta menurut Al-Kattan adalah suasana psikis yang menganggap suatu yang dicinta adalah segala-galanya. Al-Ghazali pun tak mau kalah ‘tuk mendefinisikan cinta. Menurutnya cinta adalah kecenderungan hati kepada sesuatu yang dicintai dan rasa indah yang mendalam saat menggapainya. Cinta merupakan anugerah ilahi yang datang tanpa diundang dan pergi tanpa permisi.

Ada 4 motif orang bisa cinta:

1. Cinta karena dipengaruhi oleh sosok yang dicinta.

2. Cinta sesuatu hanya sebagai sarana “wasitah” untuk mencapai suatu tujuan yang diinginkan. Contoh: mencintai kedudukan demi mencapai penghormatan dan gaji misalnya.

3. Cinta seseorang karena ingin mendapatkan sesuatu dari dirinya. Contoh: mencintainya seorang murid kepada gurunya demi meraih ilmunya.

4. Cinta yang disandari karena Allah tanpa ada tendensi apapun, kecuali hanya karena Dia.

Cinta yang terakhir inilah yang sangat dianjurkan oleh agama. So, kalau kita tak mampu mencintai Allah secara langsung marilah kita cintai makhluknya dengan dasar karena Allah. Karena siapa tau, bermula dari mencintai makhluk-Nya itulah yang kemudian bisa menghantarkan kita ‘tuk mencintai sang Khaliq. Pada biasanya orang yang mencintai sesuatu akan mengerjakan seluruh yang diperintahkan oleh yang dicinta. Tentunya sangat mustahil sekali apabila seseorang mengklaim dirinya cinta kepada Allah, sementara dirinya tidak menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Dengan kata lain, jangan pernah mengatakan cinta kepada Allah apabila engkau masih istikamah melakukan larangan-Nya.

Allah berfirman dalam surat Ali Imran ayat 31:

قل ان كنتم تحبون الله فاتبعوني يحببكم الله و يغفرلكم ذنوبكم والله غفور رحيم

Artinya: “Katakanlah (Muhammad), jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.”(QS. Ali Imran: 31).

Dari ayat tersebut kita dapat melihat beberapa kriteria cinta atas nama “Allah SWT.” Pertama, cinta terjalin dalam bingkai ketaatan kepada Allah. Kedua, cinta dilandaskan hanya semata-mata mencari pahala dan rida Allah. Cinta semacam ini terbebas dari gelora hawa nafsu. Ibnu Qoyyim berkata: seringkali cinta membawa penderitanya pada hal-hal yang tercela dan pelanggaran syariat. Menurut penulis cinta itu ada dua: حب صفي , حب شيطني.

حب صفي adalah cinta yang suci, dengan kata lain cinta yang dilandaskan karena ilahi, dan cin semacam ini adalah cinta yang bersih dan tak ternodai.

حب شيطني adalah cinta yang mengikuti bujuk rayu setan, biasanya cinta semacam ini menghalalkan segala cara untuk melampiaskan seluruh hawa nafsunya dalam artian kata cinta fatamorgana, cinta salah apa sehinggap hanya dijadikan bungkus kejamnya hawa nafsu kita, cinta salah apa sehinggap seakan-akan cinta itu yang salah padahal oarang terlanda cinta itulah yang salah menggunakan cinta, karena tuhan tak pernah salah membuat ciptaannya, tetapi hanya diri kita yang tidak menempatkan cinta pada tempatnya saja.

 

 

Untuk menghindari kehawatiran yang digelisahkan oleh Ibnu Qoyyim di atas, maka jalinan cinta yang kita rajut tetap tidak boleh berada di luar batas kewajaran. Hal ini kita lakukan demi menjaga kesucian cinta, karena kita ketahui bersama, ketika cinta menjadi segala-galanya apapun akan dikorbankan demi kekasih sang pujaan hati. Sehingga tak jarang hal yang vital pun akan dikorbankan, kehormatan tidak lagi jadi kebanggaan yang harus dipertahankan kesuciannya.

Oleh karena itu, Rasulullah SAW bersabda:

أحبب حبيبك هونا ما عسى أن يكون بغيضك يوما ما و أبغض بغيضك هونا ما عسى أن يكون حبيبك يوما ما

Artinya: “Cintailah kekasihmu sekedarnya saja karena siapa tahu suatu hari nanti ia akan membencimu, dan bencilah orang yang kamu benci sekedarnya saja karena siapa tahu suatu hari nanti ia akan menjadi kekasihmu”.(Sunan al-Turmudzi: 1997, IV). Hadis ini mengantisipasi kita yang sedang mabuk cinta agar berhati-hati, mawas diri, dan tidak overdosis di dalam mengekspresikan cinta itu sendiri.

Lantas apa hikmah yang dapat kita petik dari buah cinta yang kita dasarkan atas nama Allah SWT? Sungguh, seandainya cinta karena Allah ini selalu kita praktikkan, niscaya tak akan kita jumpai pertikaian, pemerkosaan, kejahatan, dan semacamnya di muka bumi ini. Justru yang akan kita jumpai adalah kerukunan, kedamaian, keharmonisan, sehingga akan terwujud kehidupan yang kita impi-impikan selama ini, dan berkat cinta itulah kita akan dihantar kepada pelukan surga-Nya untuk selama-lamanya, serta berjumpa dengan Zat yang menciptakan cinta itu sendiri.

 

 

Di samping itu, orang yang menjalin hubungan asmara yang didasarkan atas cinta kepada Allah juga akan mendapatkan manisnya iman. Rasulullah SAW bersabda:

ثلاث من كن فيه وجد حلاوة الايمان أن يكون الله ورسوله أحب اليه مما سواهما وأن يحب المرء لا يحبه الا لله وان يكره أن يعود فى الكفر كما يكره أن يقذف فى النار

Artinya: “Ada tiga hal yang bila mana hal tersebut terdapat dalam diri seseorang, niscaya dia akan menemukan manisnya iman, yaitu mencintai Allah dan rasul-Nya di atas segala-galanya, mencintai seseorang semata-mata karena Allah, dan tak suka dirinya kembali kepada kekafiran setelah diselamatkan Allah sebagaimana dia tak menyukai dirinya masuk neraka.” (Shahih Bukhari H.15,I).

Terakhir, sungguh betapa mulianya seseorang yang menjalani cinta hanya semata-mata karena Allah. Rangkailah bunga-bunga cinta dengan orang yang kita cintai karena Allah. Petiklah mutiara hikmah yang terselip itu dan kita akan menjadi orang yang beruntung dunia-akhirat. Aamiin.

 

Sukowono, 22 Juni 2022
#zadyosaurus07