Menjelang Purna Jabatan, Islah Maiya Nisa’ Menakar Arah Gerakan Pelajar Putri NU

Berjutapena.or.id – Di penghujung masa tugasnya sebagai Duta PW IPPNU Jawa Timur, Islah Maiya Nisa’ memilih berhenti sejenak untuk menakar makna pengabdian. Bagi Islah, jabatan yang sebentar lagi ditinggalkan bukanlah tujuan, melainkan bagian kecil dari perjalanan panjang sebagai kader pelajar putri Nahdlatul Ulama.

“Gerakan pelajar putri NU bukan soal gelar atau panggung, tetapi tentang konsistensi merawat nilai, adab, dan kebermanfaatan di ruang nyata. Duta hanyalah pintu masuk, sementara pengabdian adalah perjalanan panjangnya,” ujarnya, ketika hari-hari terakhir masa jabatannya kian dekat.

Pengalaman berada di tingkat wilayah memberinya ruang pandang yang lebih luas tentang realitas kader perempuan IPPNU di berbagai daerah. Islah melihat bahwa tantangan yang dihadapi tidak semata persoalan kemampuan kader, melainkan ketimpangan akses pembinaan dan ruang aktualisasi antar wilayah.

Di sisi lain, ia menilai ada aspek penting yang kerap terlewat dalam proses pendampingan kader perempuan. “Yang sering luput adalah penguatan mental, pendampingan berkelanjutan, dan keberanian memberi ruang aman bagi kader perempuan untuk tumbuh tanpa takut dihakimi,” katanya.

Menurutnya, ruang aman menjadi fondasi penting agar kader perempuan berani berkembang dan mengambil peran.
Menjelang purna jabatan, Islah juga merefleksikan pola kaderisasi IPPNU yang ia temui selama bertugas.

Ia menilai, kesalahan yang cukup sering terjadi adalah ketika kaderisasi berhenti pada seremoni dan angka keikutsertaan.

“Kaderisasi sering berhenti pada seremonial dan kuantitas, bukan pendampingan kualitas,” ujarnya.

Karena itu, ia mendorong perubahan arah kaderisasi yang lebih berkelanjutan dan kontekstual, sesuai dengan kebutuhan pelajar hari ini. Baginya, kaderisasi tidak boleh berhenti pada proses formal, tetapi harus mampu membentuk kader yang berdaya, berkepekaan sosial, dan siap melanjutkan estafet pengabdian.

Di tengah hitungan hari menuju akhir masa jabatan, Islah menitipkan pesan bagi kader IPPNU yang tengah memulai kepemimpinan.

“Jangan pernah meninggalkan adab, kepekaan sosial, dan keberanian untuk melayani. Jabatan bisa selesai, tetapi tanggung jawab moral sebagai kader IPPNU harus terus hidup.”

Refleksi tersebut menandai bahwa pergantian jabatan di IPPNU bukan sekadar urusan struktur, melainkan momentum meneguhkan kembali nilai dan arah gerakan. Bagi Islah Maiya Nisa’, menghitung hari menuju purna jabatan justru menjadi waktu paling jujur untuk menegaskan makna menjadi kader perempuan NU.