Islah Maiya Nisa’: Tentang Bertumbuh, tentang Adab, tentang Pengabdian yang Tidak Pernah Usai

Berjutapena.or.id – Islah Maiya Nisa’, perempuan kelahiran Lamongan, 02 April 2002, tumbuh dari ruang hidup yang sederhana. Ia berasal dari Dusun Keputran, RT 03/RW 01, Desa Dinoyo, Kecamatan Deket, Kabupaten Lamongan—sebuah tempat yang membentuknya untuk mengenal nilai sejak dini, sebelum dunia organisasi dan amanah publik mempertemukannya dengan banyak peran.

Di balik sosoknya yang tenang dan tutur katanya yang tertata, Islah Maiya Nisa’ menyimpan perjalanan yang tidak selalu lurus, tidak selalu terang, namun setia pada satu hal: nilai. Ia bukan hadir sebagai tokoh yang lahir dari gemuruh panggung, melainkan dari kesediaan berjalan pelan—mengendapkan makna, menimbang adab, dan menaruh tanggung jawab di tempat yang seharusnya.

Islah Maiya Nisa’ tumbuh dalam keluarga yang sederhana, religius, dan menjadikan adab sebagai bahasa pertama dalam hidup. Sejak awal, ia belajar bahwa hormat bukan sekadar sikap, melainkan cara memandang manusia lain; bahwa tanggung jawab bukan beban, melainkan konsekuensi dari pilihan; dan bahwa proses—betapapun lambatnya—adalah guru yang paling jujur. Nilai keikhlasan, keteguhan, serta kepedulian pada sesama tidak datang sebagai nasihat sesaat, melainkan sebagai kebiasaan yang diulang setiap hari.

Ketika ia mengenal IPPNU, yang ia temukan bukan hanya organisasi, tetapi sebuah ruang. Ruang belajar. Ruang pembentukan. Ruang untuk menguji diri: sejauh mana ia sanggup berpikir, berani bersuara, dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambil. IPPNU baginya tidak berdiri sebagai etalase kegiatan, melainkan sebagai rumah proses—tempat pelajar putri belajar menjadi manusia yang utuh.

Awal menjadi kader bukan masa yang sepenuhnya ramah. Ada waktu-waktu ketika ia harus menahan diri untuk lebih banyak mendengar, menurunkan ego, dan menerima bahwa tidak semua hal bisa berjalan sesuai kehendak pribadi. Dari sana ia memahami satu hal penting: kaderisasi bukan tentang siapa yang paling cepat dikenal, melainkan siapa yang paling tahan dibentuk. Konsistensi jauh lebih berharga daripada sorotan.

Pengalaman kepemimpinan hadir bukan dalam bentuk kemewahan fasilitas atau kenyamanan peran, melainkan melalui amanah yang datang di tengah keterbatasan. Di titik itulah ia belajar bahwa kepemimpinan sejatinya bukan perkara jabatan, tetapi keberanian mengambil tanggung jawab dan kesediaan tetap hadir—bahkan ketika keadaan tidak memberi ruang untuk merasa aman. Ia belajar berdiri tegak tanpa harus meninggikan suara.

Tantangan terberat justru hadir dari dalam: menjaga komitmen di tengah dinamika organisasi dan ekspektasi yang berlapis. Ia memilih kembali pada niat, berdialog dengan diri sendiri, dan membuka ruang komunikasi yang jujur. Bukan jalan pintas, bukan pula jalan yang selalu cepat, tetapi jalan yang menjaga nilai agar tidak tercerabut dari akarnya.

Perjalanan menuju amanah sebagai Duta PW IPPNU Jawa Timur bukan ia maknai sebagai puncak pencapaian. Ia hanyalah satu fase dari rangkaian panjang proses, kegagalan, pembelajaran, dan kepercayaan. Amanah itu ia terima dengan kesadaran penuh bahwa ia bukan simbol, melainkan penjaga nilai. Bukan untuk diagungkan, tetapi untuk dijalani.

Pengalaman turun langsung ke daerah menjadi cermin yang jujur. Ia menyaksikan kader-kader perempuan IPPNU dengan potensi yang besar—kuat, cerdas, dan berdaya—namun sering kali berjalan tanpa cukup ruang aman untuk didengar. Banyak yang mampu, tetapi tidak diberi kesempatan; banyak yang siap, tetapi belum dipercaya. Dari sanalah ia belajar bahwa kehadiran sejati bukan sekadar tampil, melainkan mendampingi. Bukan berdiri di depan, melainkan berjalan bersama.

Ada nilai-nilai yang selalu ia jaga dengan ketat: integritas, empati, dan adab. Baginya, gagasan yang paling cemerlang sekalipun akan kehilangan makna jika tidak disertai etika. Dalam organisasi, adab bukan pelengkap—ia adalah arah yang menentukan ke mana langkah akan dibawa.

Menjelang akhir masa jabatan, ia tidak merasa kehilangan. Justru ada ketenangan yang tumbuh. Ia belajar melepas, belajar percaya pada regenerasi, dan menyadari bahwa pengabdian tidak pernah berhenti pada jabatan. Kursi bisa ditinggalkan, tetapi nilai harus tetap dijaga.

Apa yang paling ia syukuri bukanlah gelar atau posisi yang pernah disandang, melainkan relasi yang tumbuh sehat dan rasa saling percaya yang terbangun perlahan. Namun di balik rasa syukur itu, ada kegelisahan yang setia: apakah nilai-nilai ini akan terus dirawat oleh mereka yang melanjutkan perjalanan?

Bagi Islah Maiya Nisa’, pengabdian tidak mengenal kata purna. Ia hanya berganti bentuk. Selama nilai NU dan IPPNU hidup dalam sikap dan tindakan, selama adab tetap menjadi landasan berpikir dan bertindak, ia merasa tetap berada di jalan yang sama.

Dan kepada kader perempuan setelahnya, pesannya tidak meledak-ledak. Ia tenang, seperti caranya berjalan:
jangan takut bertumbuh.
jangan lelah belajar.
jangan meremehkan proses kecil.

Karena perempuan yang berdaya bukan yang paling lantang bersuara, melainkan yang paling setia menjaga amanah—bahkan ketika tak ada yang menyebut namanya.

Kalau kau ingin, aku bisa memanjangkan lagi bagian refleksi batin, atau menggeser nadanya lebih lirih dan esai-personal. Aku akan tetap menulis dari caramu memandang, bukan dari caraku berbicara.

Muhammad Robet Asraria Soma
Santri Tulen