berjutapena.or.id,- PAITON, Probolinggo – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Nurul Jadid menggelar seminar bedah buku karya Nurul Huda, Melampaui Warna Kulit: Jejak-jejak Teologi Anti-Rasisme dalam Kristen dan Islam untuk Indonesia, Kamis (08/01/2026). Kegiatan yang berlangsung di Aula 1 Pondok Pesantren Nurul Jadid ini menjadi ruang dialog lintas iman untuk membahas persoalan rasisme dan kemanusiaan dalam konteks Indonesia.
Mengusung tema “Konflik Identitas: Telaah Humanisme dalam Bayang-bayang Dogma dan Rasisme”, seminar ini menghadirkan mahasiswa, akademisi, serta pegiat kemanusiaan dalam satu forum reflektif. BEM UNUJA menempatkan diskusi ini sebagai ikhtiar intelektual dalam merespons masih kuatnya praktik diskriminasi berbasis identitas di masyarakat.
Dalam pemaparannya, Nurul Huda menjelaskan bahwa buku tersebut lahir dari kegelisahan akademik sekaligus kemanusiaan atas sekat-sekat rasial yang masih hidup di ruang sosial dan keagamaan. Ia menegaskan bahwa inti ajaran agama, baik Islam maupun Kristen, adalah pembebasan manusia dari segala bentuk penindasan. “Buku ini mengajak kita menerima seluruh warna kulit sebagai anugerah. Tuhan adalah Maha Pembebas, dan di hadapan-Nya tidak ada manusia yang dibedakan hanya karena tampilan fisiknya,” ujarnya.
Sebagai akademisi lulusan Universitas Gadjah Mada, ia menekankan bahwa teologi semestinya berpihak pada martabat manusia.
Diskusi yang dipandu oleh Samsuddin ini menghadirkan tiga narasumber dengan perspektif yang beragam. Muhammad Imdad Robbani membedah buku tersebut dari sudut pandang teologi Islam. Ia menekankan pentingnya penggunaan akal dan dalil yang meyakinkan dalam memahami kesetaraan manusia, serta membedakan antara kesadaran beragama dan sekadar simbol keberagamaan.
Salah satu refleksi yang disampaikannya menyentuh kesadaran kebangsaan peserta. Ia menegaskan bahwa identitas keagamaan tidak boleh menegasikan persaudaraan sebagai sesama warga bangsa, sehingga nilai kesetaraan harus tumbuh dari cara berpikir, bersikap, dan merasakan.
Pandangan kritis disampaikan Ahmad Sahidah, yang menyoroti bagaimana humanisme kerap terhambat oleh penafsiran dogma yang sempit. Menurutnya, rasisme sering kali bersembunyi di balik legitimasi kekuasaan dan simbol agama. Ia menawarkan dua jalan perlawanan: terlibat dalam struktur kekuasaan untuk mengubahnya, atau memperkuat kesadaran masyarakat akar rumput agar menolak rasisme dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, Usman Hamid, Direktur Amnesty International Indonesia, memberikan perspektif dari nilai-nilai kekristenan. Melalui sambungan daring, ia menegaskan bahwa ajaran kasih harus menjadi fondasi utama dalam melawan rasisme sistemik dan segala bentuk diskriminasi terhadap kelompok minoritas.
Bedah buku ini tidak berhenti sebagai diskusi akademik, tetapi menjelma menjadi seruan moral. Para peserta diajak memahami bahwa identitas sejati manusia tidak terletak pada pigmentasi kulit atau simbol keagamaan, melainkan pada keluhuran budi dan kontribusinya bagi kemanusiaan.
Melalui kegiatan ini, BEM Universitas Nurul Jadid berharap mahasiswa mampu melihat keberagaman sebagai wajah kemanusiaan itu sendiri. Dengan kesadaran tersebut, Indonesia yang inklusif dan berkeadaban tidak sekadar menjadi wacana, melainkan nilai yang dihidupi dalam keseharian.
Pewarta : Raditya Anggara Putra









Leave a Reply